MASYARAKAT DUSUN PELE DESA SENTULAN KECAMATAN BANYUANYAR PROBOLINGGO
Pele merupakan nama salah satu dusun di desa Sentulan Kecamatan
Dusun Pele terletak kurang lebih 5,5 kilometer kearah selatan dari
pusat desa Sentulan. Letaknya dengan pusat desa Sentulan
terpisah oleh sungai, sehingga akses menuju
pusat desa, kelurahan, pasar, sekolahan dan akses pelayanan publik lainnya harus melewati satu-satunya jalan yaitu jalan tanah dan jembatan yang
terbuat dari Sesek Bambu dengan lebar kurang dari 1 meter, yang hanya bisa
dilewati pejalan kaki dan sepeda ontel saja itupun harus dengan cara dituntun
sepedanya tidak boleh dinaiki, untuk menjaga keawetan dari jembatan sesek itu
sendiri. Apalagi pada musim hujan, kondisinya sangatlah berbahaya untuk
dilewati.
Sudah puluhan tahun hal ini berlangsung dan luput
dari perhatian pemerintah setempat. Karena itu masyarakat dusun Pele sangat mengalami keterbelakangan dari berbagai hal, kesehatan,
pendidikan, ekonomi dan pembangunan sarana prasarana.
Dusun yang memiliki
penduduk sebanyak 500 jiwa dan 95 % diantaranya adalah masyarakat miskin ini sudah lama
memimpikan adanya jalan dan jembatan yang bisa menjadi akses utama wilayah
mereka dengan pusat desa. Pada tahun 2011 Dusun Pele telah mengusulkan sebuah jembatan dan jalan
ke Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Perdesaan (PNPM-MP),
akan tetapi belum terdanai. Bukan hanya ke PNPM-MP berbagai proposal usulan telah banyak dikirimkan ke
semua fihak dan melalui berbagai jalan, mulai dari usulan ke Provinsi,
Kabupaten dengan melalui Anggota DPRD dan pihak lainnya.
Pada saat Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) tahun anggaran 2012 di mulai tahapan
kegiatannya di Kecamatan Banyuanyar masyarakat dusun Pele mengusulkan Jalan dan jembatan
ini dengan kontruksi Jembatan Lengkung dan Jalan Rabat Beton, melalui musyawarah
dusun serta penggalian
gagasan, mengikuti selanjutnya,
Musyawarah Khusus Perempuan jembatan ini juga menjadi usulan kelompok perempuan. Hingga akhirnya
pada Musyawarah Antar Desa Prioritas Usulan, Rabat Beton dan Jembatan Pele menempati prioritas keenam untuk usulan Rabat Beton dengan dana Rp 138.348.500,- dan prioritas
ke Lima belas untuk usulan Jembatan Lengkung dengan dana 137.118.000,- dalam forum musyawarah
antar desa Penetapan.
Antusiasme masyarakat
dusun Pele terhadap usulan ini sangat besar, terbukti dengan
partisipasi di semua pertemuan yang hadir sangat
banyak. Antusiasme tersebut juga
terlihat dari disepaktinya swadaya yaitu berupa tenaga,
bahan dan upah sebesar
Rp. 5.224.500 -, . Terlebih ketika pelaksanaan kegiatan
masyarakat yang berduyun – duyun melakukan kerja bakti meskipun
tidak sedang mendapatkan giliran kerja bakti. Seperti dijelaskan Pak Saiful selaku ketua RT , dusun Pele : “ kerja baktinya
digilir per RT, akan tetapi banyak warga yang ikut membantu meskipun bukan
gilirannya, bahkan anak anak juga senang membantu pekerjaan – pekerjaan ringan
sepulang sekolah”. Namun demikian bukan berarti
tidak terdapat kendala, kendala yang muncul karena
letak lokasinya yang terpencil adalah kendala dropping material.
Kini, sejak bulan
Desember 2013, Dusun Pele tidak lagi menjadi wilayah yang terisolir lagi. Kini
dusun Pele memiliki akses yang mudah untuk menuju pasar,
masyarakat Pele memiliki jembatan yang bisa mengantar mereka untuk
pemenuhan kebutuhan mereka, anak – anak dusun Pele bisa lebih cepat sampai
di sekolah melalui jalan dengan jembatan baru ini. Kini, mereka tidak lagi khawatir dengan
hujan dan meluapnya air sungai yang membuat mereka harus terpisah dengan pusat
desa. Tentu saja, keadaan terakhir ini sangat disyukuri oleh warga dusun Pele. Terbukti dengan
tingginya antusiasme masyarakat terhadap pemeliharaan jembatan Pele itu. Mereka menjadwalkan
kerja bakti untuk perawatan, tiap sebulan sekali.



