Kamis, 18 Desember 2014

KINI MEREKA TIDAK LAGI TERISOLIR

MASYARAKAT DUSUN PELE DESA SENTULAN KECAMATAN BANYUANYAR PROBOLINGGO
Pele merupakan nama salah satu dusun di desa Sentulan Kecamatan Dusun Pele terletak kurang lebih 5,5 kilometer kearah selatan dari pusat desa Sentulan. Letaknya dengan pusat desa Sentulan terpisah oleh sungai, sehingga akses menuju pusat desa, kelurahan, pasar, sekolahan dan akses pelayanan publik lainnya harus melewati satu-satunya jalan yaitu jalan tanah dan jembatan yang terbuat dari Sesek Bambu dengan lebar kurang dari 1 meter, yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dan sepeda ontel saja itupun harus  dengan cara dituntun sepedanya tidak boleh dinaiki, untuk menjaga keawetan dari jembatan sesek itu sendiri. Apalagi pada musim hujan, kondisinya sangatlah berbahaya untuk dilewati.
Sudah puluhan tahun hal ini berlangsung dan luput dari perhatian pemerintah setempat. Karena itu masyarakat dusun Pele sangat mengalami keterbelakangan dari berbagai hal, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan pembangunan sarana prasarana.
Dusun yang memiliki penduduk sebanyak 500 jiwa dan 95 % diantaranya adalah masyarakat miskin ini sudah lama memimpikan adanya jalan dan jembatan yang bisa menjadi akses utama wilayah mereka dengan pusat desa. Pada tahun 2011 Dusun Pele  telah mengusulkan sebuah jembatan dan jalan ke Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP), akan tetapi belum terdanai.  Bukan hanya ke PNPM-MP berbagai proposal usulan telah banyak dikirimkan ke semua fihak dan melalui berbagai jalan, mulai dari usulan ke Provinsi, Kabupaten dengan melalui Anggota DPRD dan pihak lainnya.
Pada saat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) tahun anggaran 2012 di mulai tahapan kegiatannya di Kecamatan Banyuanyar masyarakat dusun Pele mengusulkan Jalan dan jembatan ini dengan kontruksi Jembatan Lengkung dan Jalan Rabat Beton, melalui musyawarah dusun serta  penggalian gagasan, mengikuti selanjutnya, Musyawarah Khusus Perempuan jembatan ini juga menjadi usulan kelompok perempuan. Hingga akhirnya pada Musyawarah Antar Desa Prioritas Usulan, Rabat Beton dan Jembatan Pele menempati prioritas keenam untuk usulan Rabat Beton dengan dana Rp 138.348.500,- dan  prioritas ke Lima belas untuk usulan Jembatan Lengkung dengan dana 137.118.000,- dalam forum musyawarah antar desa Penetapan.
Antusiasme masyarakat dusun Pele terhadap usulan ini sangat besar, terbukti dengan partisipasi di semua pertemuan yang hadir sangat banyak.  Antusiasme tersebut juga terlihat dari disepaktinya swadaya yaitu berupa tenaga, bahan dan upah sebesar Rp. 5.224.500 -, . Terlebih ketika pelaksanaan kegiatan masyarakat yang berduyun duyun  melakukan kerja bakti meskipun tidak sedang mendapatkan giliran kerja bakti.  Seperti dijelaskan Pak Saiful selaku ketua RT , dusun Pele : “ kerja baktinya digilir per RT, akan tetapi banyak warga yang ikut membantu meskipun bukan gilirannya, bahkan anak anak juga senang membantu pekerjaan pekerjaan  ringan  sepulang sekolah”.  Namun demikian bukan berarti tidak terdapat kendala, kendala yang muncul karena letak lokasinya yang terpencil adalah kendala dropping material.
Kini, sejak bulan Desember 2013, Dusun Pele tidak lagi menjadi wilayah yang terisolir lagi. Kini dusun Pele memiliki akses yang mudah untuk menuju pasar, masyarakat Pele memiliki jembatan yang bisa mengantar mereka untuk pemenuhan kebutuhan mereka, anak anak  dusun Pele bisa lebih cepat sampai di sekolah melalui jalan dengan jembatan baru ini. Kini, mereka tidak lagi khawatir dengan hujan dan meluapnya air sungai yang membuat mereka harus terpisah dengan pusat desa. Tentu saja, keadaan terakhir ini sangat disyukuri oleh warga dusun Pele. Terbukti dengan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pemeliharaan jembatan Pele itu. Mereka menjadwalkan kerja bakti untuk perawatan, tiap sebulan sekali.

Kamis, 16 Januari 2014

BELINYA MAHAL DI GRATISKAN KOK GAK LAKU YA……??

                   Hari itu tepatnya jum'at bulan September 2012, saya baru sampai di rumah kontrakan. Sebagai Fasilitator Teknik, baru memfasilitasi desa pembuatan desain dan Rab untuk usulan jembatan beton. Saya duduk sebentar untuk sekedar menghilangkan penat, dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Segera saya beranjak untuk melaksanakan sholat asyar dan sambil persiapan pulang ke kota asal, maklum rindu Si kecil anak ku yang pertama saat itu usianya 4,5 tahun. Dalam perjalanan pulang tak terasa sudah sampai di rumah sekitar pukul 8 malam, sementara istri dan anak ku menyambut kedatanganku dengan senyum ceria. Setelah menunaikan sholat Isya' dan bercerita-cerita bersama keluarga tiba-tiba kuterima telpon dari teman sesama fasilitator teknik yang memberikan khabar bahwa saya bersama beliau telah dipindah tugaskan ke Kabupaten lain. Mendengar khabar itu setengah tidak percaya, saya bertanya "info tersebut dari mana?" dan Dia menjawab "di internet". Dan info tersebut langsung saya sampaikan ke rekan satu kecamatan bahwa saya telah dipindah tugaskan ke Kabupaten lain. Senin pagi bergegas saya berangkat ke Kantor UPK sesampai disana ternyata teman-2 pelaku desa sudah tahu bahwa saya sudah dipindah tugaskan, dan saat itu juga mereka sudah merencanakan pertemuan mendadak, dan sampailah pada waktu itu kesempatan saya menyampaikan pesan dan kesan sebelum meninggalkan kecamatan ini.Dalam acara tersebut memang ada beberapa pelaku yang merasa kehilangan dan agak bingung, dan beliau menyampaikan bahwa saat ini tahapannya adalah pembuatan Rab, dan kemarin adalah waktu terakhir secara bersama-sama kita semua menyelesaiakan bersama dengan dipandu Bapak FT. Namun hari ini Rab telah selesai dan siap untuk diaplikasikan, tapi ternyata FT besok telah pindah dan saat ini kecamatan kita tidak mendapatkan jatah FT. Namun saya tetap memberi semangat, bahwa dengan kemampuan kalian saat ini, saya yakin kalian tetap bisa melanjutkan tahapan selanjutnya dengan baik dan sering-2 lah koordinasi dengan Fas T kabupaten, beliau akan senang turun ke kecamatan jika diperlukan dan sampailah pada akhir acara yaitu bersalam-salaman. Besok paginya saya sudah meluncur ke kabupaten yang baru, ya…. Seperti biasa sebelum sampai di kecamatan, semua FK dan FT baru, kumpul di kantor Bapemas untuk perkenalan sekaligus mendapatkan pembekalan dan gambaran umum yang disampaikan oleh Satker Kabupaten.
                 Setelah acara berakhir, saya bersama rekan FK menuju kecamatan. Memang saya merasa ada perbedaan yang menyolok antara daerah mataraman dan tapal kuda. Malam itu saya menginap di rumah kost FK, sambil cerita-2 kondisi kecamatan dan karakter masyarakatnya. Besok pagi saya ke UPK bersama FK, berkenalan dengan pengelola UPK dan saat itu juga bersamaan dengan rakor KPMD mungkin sekalian acara perkenalan dengan saya, selaku FT yang baru. Saat itu juga bagi saya merupakan momen penting sebagai langkah awal untuk seorang pendamping. Tibalah saat saya memberikan sambutan awal perkenalan, seperti biasa saya perkenalkan nama, alamat asal, lokasi tugas sebelumnya dan status serta sedikit cerita beberapa pengalaman selama sebagai pendamping.Namun ada beberapa pokok bahasan yang saya sampaikan, dan sampai dengan saat ini masih membekas pada mereka yaitu pada saat saya bertanya "Mohon ma'af sebelumnya, Siapa disini yang membuat Rab", serempak mereka menjawab "FT nya Pak!”. Dan saya berkata "Okelah itu yang lalu, tapi nanti kedepan saat sampai pada tahapan pembuatan Rab saya tidak mau membuatkan Rab desain.Walaupun kasih dua juta pun saya tetap tidak mau, dan saya menginginkan desa membuat Rabnya sendiri. Dan saya sampaikan pula bahwa ilmu saya itu dulu belinya mahal, modal kuliah saya adalah dengan menjual rumah, namun disini di program ini sebagai pendamping, ilmu di kuliah ini saya jual murah bahkan gratis, namun kadang tetap tidak laku. Saya menginginkan hal tersebut tidak terjadi di sini. Mereka diam sejenak dan saling pandang satu sama lain……dan itu saat perkenalan lalu.Dan alhamdulillah sampai hari ini peristiwa itu sudah berlalu setahun yang lalu, saat ini hampir 50% pelaku paham Rab, apa yang namanya analisa SNI serta penerapannya dalam pembuatan Desain dan Rab, walaupun hal itu butuh waktu yang lama serta kemauan yang cukup. Pada awal-awal memang kecamatan saya pada saat tahap pembuatan Rab agak lambat, namun saya cukup senang walaupun terlambat tetapi mereka faham tentang proses pembuatan Rab sampai pada analisa……… bahkan saat ini mereka sering mendebat FT nya terkait perencanaan dan penghitungan apabila ada kesalahan. Saya sempat ketawa sendiri dan bicara dalam hati “wah ini tandanya jualan saya disini sudah mulai laku” Saat ini mereka begitu bangga melihat hasil kerja mereka membuat Rab bisa terwujud dalam bentuk sebuah bangunan dan dimanfaatkan oleh orang banyak, rasanya sudah terbayar semua jerih payah, mulai dari perencanaan, penulisan usulan, Rab desain……… Puas rasanya dan ada rasa bangga tersendiri dalam membangun desa.

Sumber :
FT Kec. Krejengan Kab. Probolinggo

Rabu, 15 Januari 2014

MEMBANGUN SECARA MANDIRI KECAMATAN BANTARAN

Banyak upaya telah dilakukan  untuk membantu kegiatan pengembangan masyarakat  berbasis masyarakat desa setempat - dipahami bahwa pendekatan partisipatif merupakan salah satu isu kunci terhadap suksesnya proyek. tetapi juga terdapat kelemahan pada pemahaman dan kesadaran yang kontra-produktif  tentang bagaimana pendekatan  membangun masyarakat dan organisasi masyarakat yang kuat dan mandiri.
Masyarakat yang membuat keputusan bagi diri mereka sendiri mengenai sesuatu yang penting bagi mereka, secara bersama melakukan sesuatu yang memenuhi sebuah kebutuhan yang nyata . Melakukannya dengan cara yang terbuka, inklusif dan demokratis. Tidak ada seorangpun melakukan sebaliknya. Tidak hanya dalam hal konsultasi, keterlibatan atau partisipasi.
Beberapa dari kemitraan terasa terlalu birokratis (sebagai contoh, bentuk kerjasama dari kelompok-kelompok masyarakat didalam proyek pemerintah); atau mungkin didominasi oleh politikus/ tokoh setempat. Konsultasi seringkali terlihat sebagai sesuatu yang kadangkala sering menunda aksi/tindakan yang dibutuhkan.
Berdasarkan pengalaman dalam hal itu, sangat masuk akal bila masyarakat  kemudian  menjadi sadar dan kritis, kemudian berperan sebagai pemegang kontrol atas sesuatu yang terjadi didalam komunitas mereka.
            Seperti halnya yang terjadi di desa Gunungtugel Kecamatan Bantaran, masyarakat desa yang pada awalnya begitu awam dengan pembangunan desa, secara perlahan mulai sadar. Kebutuhan masyarakat tentang sarana insfrastruktur khususnya jalan yang selama ini hanya sebatas “nrimo ing pandum” sekarang masyarakat punya greget supaya jalan mereka dibangun. 
Desa Gunungtugel merupakan bagian integral dari wilayah Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Propinsi Jawa Timur. Desa Gunungtugel memiliki wilayah seluas 1.143.500 ha. Secara administratif pemerintahan terbagi dalam 5 Dusun dengan jumlah penduduk sekitar 4.029 jiwa. Secara topografis, Desa Gunungtugel relatif pada hamparan dataran yang dialiri satu sungai dan dimanfaatkan untuk pasokan irigasi lahan persawahan. Hampir 25% jalan utama di pedusunan telah mengalami pengerasan dan/atau pengaspalan. Beberapa ruas jalan merupakan jalan kabupaten, tetapi mayoritas merupakan jalan desa atau dusun. Jalan­-jalan kampung lorong dan Jalan desa yang masih berupa jalan tanah.
            Melalui penggalian gagasan di dusun, usulan-usulan yang dibutuhkan masyarakat di desa Gunungtugel di rekap dan kemudian diprioritaskan usulan mana yang paling dibutuhkandi forum Musyawarah Desa Perencanaan. Usulan-usulan tersebut kemudian dibawa ke perangkingan di MAD prioritas Usulan yang terintegrasi dengan Musrenbangcam pada 4 s/d 5 Maret 2013 dan dapat didanai dari dana PNPM pada MAD Pendanaan tanggal 4 April 2013. Usulan Desa Gunungtugel pada PNPM tahun anggaran 2013 yang terdanai adalah SPP 1 Kelompok dusun Karangtengah, Usulan jalan telford dusun Curah Bindu sepanjang 25 x 838 m, usulan Jalan telford,gorong-gorong plat,dan TPT dusun krajan.

            Pengerjaan jalan telford melibatkan masyarakat desa dengan bentuk swadaya kerja bakti, demi jalan yang lebih baik, masyarakat rela menyisihkan waktunya untuk melaksanakan kerja bakti. Hingga pada tanggal 11 Desember 2013 pengerjaan sudah bias diserahterimakan oleh Tim Pelaksana Kegiatan di Desa ke pemerintahan desa. Jalan tersebut sudah bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sekaligus juga masyarakat desa wonoasri Kec.Ranuyoso Kab. Lumajang,karena desa gunungtugel berbatasan langsung dengan Kab. Lumajang.



 Sumber :
1. Fasilitator Kecamatan
2. Fasilitator Teknik Kecamatan
3. Unit Pengelola Keuangan

tutorial membuat game pong menggunakan scratcth

 perkenalkan nama saya Nama          : Kinanti Citra Kirana  Kelas          :    7A asalamualaikum saya akan memberitahu hasil saya membuat ...